Tampilkan postingan dengan label puisi cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi cinta. Tampilkan semua postingan
Kamis, 25 Agustus 2022
BUANA
BUANA
Candramawa di antara sejuta bunga
Aku menunggu dalam waktu yang lama
Apakah dalam Jenggala, Jumantara atau di atas Samudra?
Rindu ini semakin pilu
Keberadaan nisan itu, apakah kamu tahu?
Diksi mana yang harus aku pilih,
Jika distraksi tak mampu menghilangkan rasa sedih?
Kini, Aku dan kamu yang mengisi Dunia
Membentangkan sayap untuk sebuah kata “Samawa”
Dan memberanikan diri memeluk semesta
Bersama, Berdua Selamanya
- Teduhnya Rintik Kenangan Bersama Warmanistik -
Sabtu, 26 Juni 2021
WHEN CORONA IS OVER PART IV
"AKHIR - AKHIR INI"
-The Moon-
Lalu-lalang orang saling bersahutan
Suasana mencekam sejauh mata memandang
Berita kematian seperti suara adzan
Sirine ambulan seperti angkutan umum yang membawa penumpang ..
Mungkin itu hanya angka harian
Tapi ...
Ada yang kesakitan dan berharap pulang,
Terbaring diantara kesembuhan atau dipusarakan
Ada yang berkeringat penuh kebingungan, "Manakah yang harus diprioritaskan?"
Ada yang bekerja seperti biasa dan menunggu giliran
Ada yang duduk termenung dan berpikir,
"Apa yang selanjutnya dilakukan?"
Ada yang berteriak mencari pertolongan dan marah karena ketakutan
Ada yang duduk bersandar tiang, menangis karena kehilangan
Analogi kecil dari ujung peta Jepara
Seperti .. "Apa yang dipermukaan ditunggu untuk ditanahkan"
Kelet, 27 Juni 2021
Monalisa
Inspired By : Teman-Teman di RSUD Kelet
Jumat, 02 November 2018
MAAF, DARI BULAN
MAAF, DARI BULAN
Jika biru masih diatas abu-abu
Menenggelamkan rindu di arus tanpa ragu
Kemudian menciptakan sendu
Dengan bait awal, "Maafkan Aku"
Jika matahari enggan memberi kesempatan
Apa yang bulan lakukan di gelapnya malam?
Menunggu bukan jawaban,
Berjuang adalah pilihan
Waktu menikam dan jarak menghantam
Membunuh perlahan menyisakan titik hitam
"Lantas apa yang harus aku lakukan?"
Untukmu yang aku sayang
Yang masih dalam kemalangan
Orang bilang, Kartini adalah pejuang emansipasi perempuan
Di tanahnya lah, aku harap dapat berdiri
Maukah menemani walau hanya sehari?
Jangan jauh-jauh, aku sayang kamu
Jangan pergi ya? aku belum bisa lari
Masih tetap belajar untuk berdiri
Dan jika kamu tak sudi lagi mencintai,
Jangan usir aku untuk menepi
Aku masih disini, di Bumi,
Boleh ya aku datang menghampiri?
Semarang, 02 November 2018
Dibuat oleh Monalisa pukul 22:51 WIB
Selasa, 20 Maret 2018
PUISI "SURAYAH"
SURAYAH
Yah…
Untuk tinta yang kau taburkan
Untuk aksara yang kau tulis
Yang di dalamnya terpatri kata
Dalam lembaran kertas
Indah berbalut selimut sederhana
Yah.. Aku suka
Iyaa dia Dilan 1990
Yang dengan sebuah kalimat aku tertawa
Terkesima ketika dia memulai bicara
Tersenyum ketika dia mulai melangkah
Dengan penuh gaya .. dia berkata
“jangan rindu, berat. Kamu tidak akan kuat, biar aku
saja”
Tegal, 28 Januari 2018
MONALISA
Puisi
ini ditulis sebagai bentuk apresiasi kepada penulis dan sutradara film “Dilan
1990” ayah pidi baiq
Minggu, 04 Maret 2018
PETIKAN RINDU
Kemarin dia pergi dari tempat dimana ia biasanya berdiri..
Tidak tanpa jejak cerita
Rasanya air mata ini ingin menangis sendu
Terharu, ataukah wujud dari tangis pilu?
Segeralah berakhir dari putaran siklus tak berirama ini
“Aku rindu
Petikkan gitarmu untukku”
Bahkan ketika malam memendam cahaya
Untukku... ia masih ada di situ
Seperti di ujung pintu, hanya untuk menunggu
Yang hanya aku tau,
ia biasa tersenyum ketika bersamaku
lalu..
Bisakah aku melawan sang rindu?
Ku jawab bisa, untuk sekedar ungkapan tak bermakna
Berbanding terbalik dengan rasa di raga
“yaa, rindu ini terlalu berat.. bisakah kau menelfonku dan berkata
Mona, aku ingin bertemu”
8/8/2017
MONALISA
Langganan:
Postingan (Atom)








