Tampilkan postingan dengan label puisi terbaik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi terbaik. Tampilkan semua postingan
Kamis, 25 Agustus 2022
BUANA
BUANA
Candramawa di antara sejuta bunga
Aku menunggu dalam waktu yang lama
Apakah dalam Jenggala, Jumantara atau di atas Samudra?
Rindu ini semakin pilu
Keberadaan nisan itu, apakah kamu tahu?
Diksi mana yang harus aku pilih,
Jika distraksi tak mampu menghilangkan rasa sedih?
Kini, Aku dan kamu yang mengisi Dunia
Membentangkan sayap untuk sebuah kata “Samawa”
Dan memberanikan diri memeluk semesta
Bersama, Berdua Selamanya
- Teduhnya Rintik Kenangan Bersama Warmanistik -
Kamis, 02 April 2020
When Corona Is Over
Dan Ketika Semua Berakhir
(When
Corona Is Over)
Written By
-Monalisa-
“Dinding berbicara, Angin membawa berita”
Tak sempatku berkeliling di antara aksara pada
dinding
Memisahkan karang dari karimun
Berjalan di atas besi dalam kerumun
Memforsir diri bahwa esok tragedi benar-benar
berakhir
Tapi tunggu ….
Semua ini baru berjalan, bosan
Ya aku tau, akupun sama
Khawatir tentang hidup dan kehidupan
Tapi bukan itu …. Aku bingung apa yang harus
aku lakukan
Aku diam dalam lamunan
Tidak, tidak, bukan seperti ini
Tanah lapang tanpa cangkul,
Berat dipikul, diletakkanpun tak kan timbul
Membisakan tanpa membiasakan
"Apa yang sedang anda pikirkan?"
"Kekosongan" …
Donorojo, Jepara, Indonesia
Thursday, April 2nd 2020
14 : 53 WIB
Jumat, 02 November 2018
MAAF, DARI BULAN
MAAF, DARI BULAN
Jika biru masih diatas abu-abu
Menenggelamkan rindu di arus tanpa ragu
Kemudian menciptakan sendu
Dengan bait awal, "Maafkan Aku"
Jika matahari enggan memberi kesempatan
Apa yang bulan lakukan di gelapnya malam?
Menunggu bukan jawaban,
Berjuang adalah pilihan
Waktu menikam dan jarak menghantam
Membunuh perlahan menyisakan titik hitam
"Lantas apa yang harus aku lakukan?"
Untukmu yang aku sayang
Yang masih dalam kemalangan
Orang bilang, Kartini adalah pejuang emansipasi perempuan
Di tanahnya lah, aku harap dapat berdiri
Maukah menemani walau hanya sehari?
Jangan jauh-jauh, aku sayang kamu
Jangan pergi ya? aku belum bisa lari
Masih tetap belajar untuk berdiri
Dan jika kamu tak sudi lagi mencintai,
Jangan usir aku untuk menepi
Aku masih disini, di Bumi,
Boleh ya aku datang menghampiri?
Semarang, 02 November 2018
Dibuat oleh Monalisa pukul 22:51 WIB
Rabu, 04 April 2018
HIJAU DIUJUNG SENJA
HIJAU DIUJUNG SENJA
Berkisah seorang dari jawa
Tentang generasi yang terjajah masa
Tentang dia yang berada di ujung sana
Memimpikan kembali untuk sekedar sapa, bertatap muka
Bersama anak dari desa
Langit berawan, abu-abu menuju hitam
Sedang ia hanya duduk
Bercengkrama dengan laras panjang
Tak bisa menentang titah dari sang komandan
Terkadang ...
Menyeka air mata, bertahan dibalik seragam
Berjuang untuk tidak tumbang
Menang melawan rindu untuk bisa terbang
Menuju halaman, tempat pertama kaki dipijakkan
Semarang, 19 Maret 2018
-MONALISA-
puisi ini saya buat untuk seseorang yang ceritanya membuat saya pribadi terinspirasi, dari mulai dia tumbuh dimasa SMA sampai sekarang ini, bertugas di pulau ujung Indonesia.. mungkin ini bukan apa-apa dibandingkan dengan perjuangannya, tapi saya sangat mengapresiasi apa yang dia lakukan.. semoga Allah SWT selalu melindunginya dari marabahaya, tetap sehat, dan bisa segera berkumpul dengan keluarga di rumah walaupun cuma bertegur sapa untuk mengobati rasa rindu di dada..
puisi ini juga dibuat untuk merayakan rilisnya film "Jelita Sejuba", besok pada tanggal 5 April 2018..
selamat menonton :))
Label:
bahasa indonesia,
impian,
jelita sejuba,
kumpulan puisi,
lomba puisi,
mona hadromi,
pengembangan kepribadian,
poltekkes semarang,
puisi indonesia,
puisi terbaik
Senin, 30 Mei 2016
KETULUSAN JIWA SPARTAK
KETULUSAN JIWA SPARTAK
Sepotong
sajak terkuak
Saat
benang merah lepas menuju jerami
Sendiri
berteduh di bawah matahari
Menoleh
kesetiap sudut guratan luka
Dawai
nafas menemani di ladang sunyi
Datanglah
padaku..
Kala
duka memeluk erat jiwamu
Aku
berperang membunuh seribu kesedihan
Untukmu,
tahanlah luka wahai jiwa!
Menepilah..
kau tak berguna baginya
Sapaan
rasa tak lagi bermakna
Kain
kepala yang mengibar dengan liukan angin
Terabaikan
dengan sarkasnya kata
Akan
ada kala dia mengerang sebab putus asa
Lewat
teriakan angin diluar sana
Aku
mendengarmu, hadir dengan gemelut do’a
Karena cinta tak
akan meminta iba
MONALISA
31/05/2016 11:40
Di ikutkan dalam event PUISI NUSANTARA
Langganan:
Postingan (Atom)








