Tampilkan postingan dengan label puisi terbaik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi terbaik. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Agustus 2022

Delapan

 Delapan


Selamat pagi delapan tahunan yang berdelapan
Kita berteman,
Untuk sekian juta kenangan
Dalam realitas kehidupan
Memimpikan ketenangan hidup dan kebahagiaan
Entah itu dalam kegelapan, kesedihan dan kemalangan
Kita ada dalam waktu terbaik
Dan yaa kita wamanistik
Senyum, tertawa dan mari bergembira bersama !!



\


BUANA

 BUANA



Candramawa di antara sejuta bunga
Aku menunggu dalam waktu yang lama
Apakah dalam Jenggala, Jumantara atau di atas Samudra?
Rindu ini semakin pilu
Keberadaan nisan itu, apakah kamu tahu?
Diksi mana yang harus aku pilih, 
Jika distraksi tak mampu menghilangkan rasa sedih?
Kini, Aku dan kamu yang mengisi Dunia
Membentangkan sayap untuk sebuah kata “Samawa”
Dan memberanikan diri memeluk semesta
Bersama, Berdua Selamanya
- Teduhnya Rintik Kenangan Bersama Warmanistik -





Kamis, 02 April 2020

When Corona Is Over

Dan Ketika Semua Berakhir

(When Corona Is Over)
Written By
-Monalisa-

“Dinding berbicara, Angin membawa berita”
Tak sempatku berkeliling di antara aksara pada dinding
  Memisahkan karang dari karimun
Berjalan di atas besi dalam kerumun
Memforsir diri bahwa esok tragedi benar-benar berakhir
Tapi tunggu ….
Semua ini baru berjalan, bosan
Ya aku tau, akupun sama
Khawatir tentang hidup dan kehidupan
Tapi bukan itu …. Aku bingung apa yang harus aku lakukan
Aku diam dalam lamunan
Tidak, tidak, bukan seperti ini
Tanah lapang tanpa cangkul,
Berat dipikul, diletakkanpun tak kan timbul
Membisakan tanpa membiasakan
"Apa yang sedang anda pikirkan?" 
"Kekosongan" …


Donorojo, Jepara, Indonesia
Thursday, April 2nd 2020
14 : 53 WIB

Jumat, 02 November 2018

MAAF, DARI BULAN

MAAF, DARI BULAN


Jika biru masih diatas abu-abu
Menenggelamkan rindu di arus tanpa ragu
Kemudian menciptakan sendu
Dengan bait awal, "Maafkan Aku"

Jika matahari enggan memberi kesempatan
Apa yang bulan lakukan di gelapnya malam?
Menunggu bukan jawaban,
Berjuang adalah pilihan

Waktu menikam dan jarak menghantam
Membunuh perlahan menyisakan titik hitam
"Lantas apa yang harus aku lakukan?"
Untukmu yang aku sayang
Yang masih dalam kemalangan

Orang bilang, Kartini adalah pejuang emansipasi perempuan
Di tanahnya lah, aku harap dapat berdiri
Maukah menemani walau hanya sehari?

Jangan jauh-jauh, aku sayang kamu
Jangan pergi ya? aku belum bisa lari
Masih tetap belajar untuk berdiri
Dan jika kamu tak sudi lagi mencintai,
Jangan usir aku untuk menepi
Aku masih disini, di Bumi,
Boleh ya aku datang menghampiri?



Semarang, 02 November 2018

Dibuat oleh Monalisa pukul 22:51 WIB


Rabu, 04 April 2018

HIJAU DIUJUNG SENJA

HIJAU DIUJUNG SENJA

Berkisah seorang dari jawa

Tentang generasi yang terjajah masa

Tentang dia yang berada di ujung sana

Memimpikan kembali untuk sekedar sapa, bertatap muka

Bersama anak dari desa

Langit berawan, abu-abu menuju hitam

Sedang ia hanya duduk 

Bercengkrama dengan laras panjang

Tak bisa menentang titah dari sang komandan

Terkadang ...

Menyeka air mata, bertahan dibalik seragam

Berjuang untuk tidak tumbang

Menang melawan rindu untuk bisa terbang

Menuju halaman, tempat pertama kaki dipijakkan

Semarang, 19 Maret 2018

-MONALISA-

puisi ini saya buat untuk seseorang yang ceritanya membuat saya pribadi terinspirasi, dari mulai dia tumbuh dimasa SMA sampai sekarang ini, bertugas di pulau ujung Indonesia.. mungkin ini bukan apa-apa dibandingkan dengan perjuangannya, tapi saya sangat mengapresiasi apa yang dia lakukan.. semoga Allah SWT selalu melindunginya dari marabahaya, tetap sehat, dan bisa segera berkumpul dengan keluarga di rumah walaupun cuma bertegur sapa untuk mengobati rasa rindu di dada..

puisi ini juga dibuat untuk merayakan rilisnya film "Jelita Sejuba", besok pada tanggal 5 April 2018..

selamat menonton :))

Senin, 30 Mei 2016

KETULUSAN JIWA SPARTAK

KETULUSAN JIWA SPARTAK
Sepotong sajak terkuak
Saat benang merah lepas menuju jerami
Sendiri berteduh di bawah matahari
Menoleh kesetiap sudut guratan luka
Dawai nafas menemani di ladang sunyi
Datanglah padaku..
Kala duka memeluk erat jiwamu
Aku berperang membunuh seribu kesedihan
Untukmu, tahanlah luka wahai jiwa!
Menepilah.. kau tak berguna baginya
Sapaan rasa tak lagi bermakna
Kain kepala yang mengibar dengan liukan angin
Terabaikan dengan sarkasnya kata
Akan ada kala dia mengerang sebab putus asa
Lewat teriakan angin diluar sana
Aku mendengarmu, hadir dengan gemelut do’a

Karena cinta tak akan meminta iba
MONALISA
31/05/2016 11:40
Di ikutkan dalam event PUISI NUSANTARA