Minggu, 13 Oktober 2019

Puisi : Hak Cipta dilindungi yang Maha Kuasa


AKU, BULAN


Cahaya dihimpit gulitanya kehidupan
Jika sudut itu runtuhan batu,
Maukah kamu melihat dan menemani bersama senyummu?
Awan jauh meninggi meninggalkan hujan
Biru lautan melindungi ikan dan karang
Andai aku dapat mengalir, maka ..
Aku hulu dan kau hilir
"Berhentilah sejenak disitu
Jangan sampai hanyut, biarkan jantung tetap berdegup"
Kelak walaupun basah kuyup
Dan hanya menopang di atas kayu lapuk
Sedang matahari beranjak dan bulan merajuk
Meminta malam mendekap erat 
Agar waktu berhenti sejenak
Menangkap detik yang terus berdetak
Untuk kita yang selalu merindu sebab jarak ...

Happy Birthday For 26th, Semoga Menjadi si tua yang menyenangkan !!!!

Oct, 14th 2019

Made By Your GF
at Donorojo, Oct 11st 2019 03.56 pm
 the Moon


(Monalisa)

 

 



Rabu, 10 Juli 2019

CERITA DARI HUTAN


CERITA DARI HUTAN

Pernahkah menuruni jalan setapak beriringan jurang?
Hijau mendominasi daripada merah
Kuning menjadi motif di lautan dedaunan
Kala itu, aku ketakutan …
bukan untuk satu hitungan bulan
tapi untuk ratusan malam
sebut saja ia roy, si ijoroyo-royo
yang menyambut hijaunya donorojo
dan berkata “it’s okay, I’m with you mo”
lampu berkedip dan siap siaga
kemudian aku tertawa
“sebenarnya untuk apa aku membuat sajak tentang dia?”
Sungguh tak berguna
Tapi.. gapapa lah yaaa
Karena dia adalah royku yang bahagia
Hahahaha :D
 
Jepara, 10 Juli 2019 (14:48 WIB)
Ditulis oleh Monalisa
pada saat gabut dan ga ngerti harus ngerjain apa lagi

Jumat, 02 November 2018

MAAF, DARI BULAN

MAAF, DARI BULAN


Jika biru masih diatas abu-abu
Menenggelamkan rindu di arus tanpa ragu
Kemudian menciptakan sendu
Dengan bait awal, "Maafkan Aku"

Jika matahari enggan memberi kesempatan
Apa yang bulan lakukan di gelapnya malam?
Menunggu bukan jawaban,
Berjuang adalah pilihan

Waktu menikam dan jarak menghantam
Membunuh perlahan menyisakan titik hitam
"Lantas apa yang harus aku lakukan?"
Untukmu yang aku sayang
Yang masih dalam kemalangan

Orang bilang, Kartini adalah pejuang emansipasi perempuan
Di tanahnya lah, aku harap dapat berdiri
Maukah menemani walau hanya sehari?

Jangan jauh-jauh, aku sayang kamu
Jangan pergi ya? aku belum bisa lari
Masih tetap belajar untuk berdiri
Dan jika kamu tak sudi lagi mencintai,
Jangan usir aku untuk menepi
Aku masih disini, di Bumi,
Boleh ya aku datang menghampiri?



Semarang, 02 November 2018

Dibuat oleh Monalisa pukul 22:51 WIB


Rabu, 04 April 2018

HIJAU DIUJUNG SENJA

HIJAU DIUJUNG SENJA

Berkisah seorang dari jawa

Tentang generasi yang terjajah masa

Tentang dia yang berada di ujung sana

Memimpikan kembali untuk sekedar sapa, bertatap muka

Bersama anak dari desa

Langit berawan, abu-abu menuju hitam

Sedang ia hanya duduk 

Bercengkrama dengan laras panjang

Tak bisa menentang titah dari sang komandan

Terkadang ...

Menyeka air mata, bertahan dibalik seragam

Berjuang untuk tidak tumbang

Menang melawan rindu untuk bisa terbang

Menuju halaman, tempat pertama kaki dipijakkan

Semarang, 19 Maret 2018

-MONALISA-

puisi ini saya buat untuk seseorang yang ceritanya membuat saya pribadi terinspirasi, dari mulai dia tumbuh dimasa SMA sampai sekarang ini, bertugas di pulau ujung Indonesia.. mungkin ini bukan apa-apa dibandingkan dengan perjuangannya, tapi saya sangat mengapresiasi apa yang dia lakukan.. semoga Allah SWT selalu melindunginya dari marabahaya, tetap sehat, dan bisa segera berkumpul dengan keluarga di rumah walaupun cuma bertegur sapa untuk mengobati rasa rindu di dada..

puisi ini juga dibuat untuk merayakan rilisnya film "Jelita Sejuba", besok pada tanggal 5 April 2018..

selamat menonton :))

Selasa, 20 Maret 2018

PUISI "SURAYAH"


SURAYAH 

Yah…
Untuk tinta yang kau taburkan
Untuk aksara yang kau tulis
Yang di dalamnya terpatri kata
Dalam lembaran kertas
Indah berbalut selimut sederhana
Yah.. Aku suka
Iyaa dia Dilan 1990
Yang dengan sebuah kalimat aku tertawa
Terkesima ketika dia memulai bicara
Tersenyum ketika dia mulai melangkah
Dengan penuh gaya .. dia berkata
“jangan rindu, berat. Kamu tidak akan kuat, biar aku saja”

Tegal, 28 Januari 2018
MONALISA
Puisi ini ditulis sebagai bentuk apresiasi kepada penulis dan sutradara film “Dilan 1990” ayah pidi baiq

Minggu, 04 Maret 2018

PETIKAN RINDU

Kemarin dia pergi dari tempat dimana ia biasanya berdiri..

Tidak tanpa jejak cerita

Rasanya air mata ini ingin menangis sendu

Terharu, ataukah wujud dari tangis pilu?

Segeralah berakhir dari putaran siklus tak berirama ini

“Aku rindu

Petikkan gitarmu untukku”

Bahkan ketika malam memendam cahaya

Untukku... ia masih ada di situ

Seperti di ujung pintu, hanya untuk menunggu

Yang hanya aku tau,

ia  biasa tersenyum ketika bersamaku

lalu.. 

Bisakah aku melawan sang rindu?

Ku jawab bisa, untuk sekedar ungkapan tak bermakna

Berbanding terbalik dengan rasa di raga

“yaa, rindu ini terlalu berat.. bisakah kau menelfonku dan berkata

Mona, aku ingin bertemu”

8/8/2017

MONALISA




Selasa, 06 September 2016

Contoh revlective journal : Hak cipta milik Allah SWT melalui monalisa



TERKIKISNYA “SOFT SKILL OF INDONESIAN

Mencoba kembali mengingat ketika Bapak Arwani menyampaikan sebuah realitas kehidupan saat soft skill telah mulai memudar,budaya ramah tamah yang merupakan ciri dari bangsa indonesia perlahan mulai menghilang dan terkikis dari kepribadian generasi penerus bangsa indonesia.
Seperti halnya yang disampaikan oleh Bapak arwani beberapa waktu lalu, saat kumpulan mahasiswa di kampus XXX yang berorasi didepan kantor Rektor untuk berunjuk rasa demi mencapai sebuah kesepakatan, menyebutkan Rektor dengan hanya menyebut Nama tanpa dengan sebutan “Bapak atau Mister” sebagai wujud dari generasi bangsa, pantaskah ini ditiru? Ini adalah sebuah penyimpangan dari keunggulan Bangsa Indonesia yang terkenal dengan perilaku kesopanan dan saling menghargai tanpa adanya diskriminasi baik dari pihak yang lebih tua ataupun yang lebih muda. Dimanakah manusia yang bermoral saat ini?
Menghormati yang lebih tua adalah sebuah kewajiban dan menyayangi yang lebih muda adalah sebuah keharusan. Berkaca pada diri sendiri sebelum menghakimi bahkan merendahkan orang lain, terlebih untuk orang yang lebih tua. Memahami gaya berkomunikasi yang baik dan benar, menyesuaikan siapa orangyang akan diajak bicara, terutama terhadap orang yang lebih tua haruslah bersikap lebih sopan. Jangan pernah menghardik seolah-olah kita benar dan orang lain salah karena cara penyampaian kata per kata dalam mengungkapkan ketidakpuasan akan mempengaruhi cara pandang orang lain terhadap kepribadian kita sendiri.
Maraknya generasi muda indonesia yang lebih suka mengadopsi budaya barat dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari adalah sebuah kekeliruan yang dapat mengakibatkan berkurangnya soft skill yang telah ditanamkan sejak kecil. Demi mempertahankan budaya kita yang terkenal ramah dan sopan, sudah seharusnya menggunakan panggilan khusus untuk orang yang lebih tua maupun yang lebih muda sebagai wujud apresiasi dan penghormatan dibandingkan hanya dengan memanggil Nama Terang atau sebutan “Kamu” untuk memerintahkan atau meminta tolong kepada orang lain.
Dimana soft skill yang membumi di tanah Pertiwi ini?
Keramahan tanpa kasta, jiwa raga hidup dalam peti tiada peduli.
Di luar negeri, sudah banyak negara-negara yang telah menyadari betapa pentingnya soft skill untuk sebuah kenyamanan dan kepuasan pelayanan yang diberikan kepadacostumers. Dibandingkan dengan hard skill, soft skill lebih diutamakan karena dapat menjadi tolak ukur seberapa jauh seseorang dapat memahami dan diterima dalam ruang lingkup sosial, masyarakat dan pekerjaan. Tidak peduli apakah seseorang itu memiliki GPA (Grade Point Average) yang hampir meyentuh angka 4.00, soft skill juga ikut berpengaruh untuk menentukan diterima atau tidaknya seseorang dalam mencari sebuah pekerjaan. Orang lain akan melihat perbedaan lulusan dari kepribadian, baik berupa cara berjalan, sikap, attitude yang baik, cerdas secara emosi dan memiliki perhatian terhadap sesama manusia.